Jumat, 04 Mei 2012

Balada si Pacar Pelupa- PLUM


Aku pernah begitu ketakutan ketika kamu mempermasalahkan tentang sifatku yang sangat pelupa. Katamu aku tidak memenuhi kriteria sebagai istri yang baik, karena terlalu sering kelupaan hal-hal yang menurutmu begitu penting buat diriku sendiri. Bagaimana bisa jadi istri yang baik kalo kunci, handphone, dompet yang notabene penting buatku pun sering kulupakan, bisa-bisa aku lupa merawat anak dan suamiku nanti - begitu katamu.


Aku pernah lupa kebingungan & memeriksa tiap sudut kantorku untuk menemukan kacamataku yang ternyata nongkrong dengan indahnya di jidatku. Aku pernah sebulan lebih hidup tanpa KTP krn lupa meletakkan KTP yg kemudian aku temukan di dlm clutch bag yg kupakai ketika kita pergi ke pernikahan temanmu. Yang lebih parah aku juga selalu lupa membukakan pintu mobilmu ketika kau terkunci dr dalam. hehe

Di hari minggu malam itu begitu kuingat kamu dengan amat sangat marah, memaki-makiku di telepon karena aku kelupaan dimana letak tiket pulang perjalanan kereta apiku. Tapi aku bahagia di tengah kemarahanmu lho, kamu begitu paniknya dan khawatir kalau-kalau aku diturunkan di stasiun antah berantah di tengah malam karena kedapatan tak bawa tiket. Memang begitu bukan caramu menunjukkan perhatian? *apa geer aku*

Lalu pernah aku membuatmu kerepotan ketika harus memutar sekian kilometer perjalanan di tol Jakarta karena aku lupa meninggalkan handphone dan dompetku di mobilmu ketika kamu hendak pulang ke Jogja, lagi-lagi waktu malam. Dan dua menit setelah kamu sampai kembali ke kosku, mengembalikan barang-barangku, aku baru teringat ATMmu masih di dompetku sehabis kupinjam untuk bayar CC-ku. Hihi dan kamu marah ndak mau putar balik lagi.

Tapi tahukah kamu apa yang nyaris tak pernah terlupa olehku?
Kamu. Yah kamu.
Entah apakah karena kamu jauh lebih penting daripada kesemua hal yang sering kulupakan di atas maka otakku begitu merespon jika namamu disebut, aku juga tak yakin.
Yang pasti aku tak lupa untuk membangunkanmu setiap pagi, karena selama mengenalmu yang paling kutunggu sesaat sebelum tidur adalah agar pagi segera datang dan segera pula aku bisa mendengar suaramu. Pasti kamu udah malas sebab itu-itu ajah sapaanku setiap pagi: "selamat pagii, ayook bangun. sholat subuh yah terus jangan tidur lagi nanti kesiangan ngantornya"
Yang pasti aku tak lupa untuk menanyakan kabarmu setiap hari, mungkin kamu bosan mendengar kalimatku yang sama setiap harinya : "apa kabar harimu hari ini?"
Yang pasti aku tak lupa untuk memintamu memberikan ucapan sebelum tidur, kadang memaksamu mendendangkan sebuah lagu, meski aku tahu kamu enggan setiap malamnya... tapi tahukah kamu kalau ucapan "met bobo yah sayang" darimu itu jauh lebih melelapkan dari sebutir valium.
Dan mungkin salah satu yang paling tak pernah terlupakan darimu adalah bau parfummu dan merasakan kedamaian yang begitu besar berada dalam pelukmu.
Aku tak pernah lupa untuk membanggakanmu ketika semua orang meragukan kemampuanmu.
Aku tak pernah lupa untuk memberimu semangat mewujudkan mimpi, sebab aku tahu kamu orang yang tangguh.
Aku tak pernah lupa untuk membuatmu tertawa, sebab mendengar tawamu di tengah semua keluh dan bebanmu menjadi semacam reward tersendiri buatku. Puas, yah aku selalu puas bila bisa membuatmu tertawa riuh.
Aku tak pernah lupa untuk mengucap syukur kepada Tuhan, betapa beruntungnya aku memilikimu, mengenalmu bukan dalam sebuah kesempurnaan, menjadikanku pribadi yang mencintai dengan total.
Aku tak pernah lupa bagaimana kamu mengharubirukan hatiku dengan penerimaanmu yang begitu hebat akan kekuranganku & keluargaku, akan begitu banyak perbedaan kita.

Aku tak pernah lupa meminta maaf kepadamu atau memaafkanmu pada setiap pertengkaran dan kesalahpahaman yang kita alami selama ini.
Aku tak pernah lupa, tidak pernah lupa sedikitpun kalimat yang kamu pernah ucapkan sejak pertama perkenalan kita.

Ingatanku yang begitu detilnya tentangmu ini lah yang kemudian pada akhirnya membawaku untuk melepasmu karena ternyata aku masih tetap saja pelupa : sepertinya aku lupa mengajarkan tentang kejujuran dengan cara yang mudah kau mengerti hingga merubah pribadiku menjadi seorang yang begitu kejam menguliti kesalahanmu. Percayalah aku bukan seperti itu sebelumnya....

Aku lupa mengajarkan bahwa cinta dan kasih sayang saja tidaklah cukup, diperlukan kepercayaan yang menjadi perekatnya. Bila cinta diberikan, maka kepercayaan harus diperoleh. Kamu harus cukup kuat untuk mendapatkannya, harus cukup tangguh untuk menjaganya dan bilapun itu hilang kamu harus berani untuk berusaha memilikinya kembali.
Apa aku pernah sampaikan padamu satu hal :
bahwa aku memang sederhana dalam banyak hal, kecuali dalam cinta aku serakah: Untukku semua atau tidak sama sekali.
Ahh aku lupa pernah menyampaikannya atau kau yang lupa mengingatnya...

-copas via PLUM-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar